Pada abad ke-14 negeri Belgia diperintah oleh seorang duke atau pangeran yang bernama Raynald III. Pangeran ini sedemikian gemuknya sehingga selain menyandang gelar resmi yaitu Duke of Burgundy ia juga memiliki nama julukan Crassus, yang dalam bahasa Latin artinya yaitu “gembrot.” Suatu hari Raynald bertengkar hebat dengan adiknya Edward. Pertengkaran ini menyebabkan Edward memberontak serta menangkap kakaknya, Raynald. Ia pun menjebloskan kakaknya ke dalam sebuah kamar tahanan di kastil Nieuwkerk. Edward berjanji kepada Raynald bahwa ia boleh menduduki kedudukannya kembali bila dapat meninggalkan ruangan di mana ia dipenjarakan. Sesungguhnya tidak akan sukar bagi orang lain untuk keluar dari ruangan tersebut. Sebab semua pintu dan jendela dari kamar tahanan tersebut ukurannya hampir seperti ukuran pintu dan jendela yang normal serta dibiarkan terbuka tak terkunci. Namun yang jadi masalah adalah gemuknya tubuh Raynald membuat ia harus menguruskan badan terlebih dahulu untuk dapat keluar melewati pintu atau jendela kamarnya.
YESUS, WAKIL YANG PARIPURNA
Suatu hari saya bersama dengan istri saya diundang untuk menghadiri jamuan makan malam yang diselenggarakan oleh seorang duta besar di Jakarta. Acara jamuan makan malam ini diselenggarakan di rumah kediaman yang bersangkutan. Malam itu selain kami berdua ada sekitar empat puluh orang tamu lainnya yang diundang untuk menghadiri acara tersebut. Memasuki rumah kediaman sang duta besar kami harus melewati pemeriksaan yang sangat ketat. Pemeriksaan ini tak kalah ketatnya dibandingkan bila kita pergi berkunjung ke kantor kedutaan tempat di mana sang duta besar bertugas. Bukan hanya saya dan istri saya saja yang harus melewati pemeriksaan tersebut. Saya lihat semua tamu, tak terkecuali para tokoh masyarakat yang terkenal yang wajahnya biasa menghiasi halaman-halaman surat kabar dan layar televisi yang malam itu ikut diundang juga harus melewati prosedur yang sama.
YESUS MEMULIHKAN RELASI MANUSIA
Wayne Cordeiro, gembala gereja New Hope di Honolulu menceritakan pengalamannya yang menarik berkenaan dengan makan malam di sebuah restoran yang mahal. Suatu hari seorang anggota jemaatnya memberi kepadanya selembar voucher atau kupon untuk makan malam di sebuah restoran yang mahal. Nilai voucher itu adalah sebesar $ 100. Suatu jumlah yang lumayan besar.
TIGA TANTANGAN TERBESAR
Alkisah suatu hari Angin Barat bertemu dengan Angin Timur dan memperdebatkan siapa yang terkuat di antara mereka berdua. Angin Barat berkata: “Aku lebih kuat dari pada dirimu.” Si Angin Timur tentu saja tidak mau kalah dan balas berkata: “Tidak, aku pasti lebih kuat dari engkau.” Angin Barat berkata: “Kalau aku mengeluarkan kekuatanku, kapal-kapal di lautan semuanya pada karam.” Angin Timur membalas: “Kalau aku mengeluarkan kekuatanku, rumah-rumah pun akan roboh berantakan.” Seharian mereka berdebat tanpa menemukan kesepakatan siapa di antara mereka yang terkuat.
TIADA KEBETULAN DALAM TUHAN
Suatu pagi, di tahun terakhir kuliah saya di ITS Surabaya, seorang teman datang ke rumah saya. Teman kuliah saya ini baru pulang berlibur dari Bandung dengan menumpang kereta api malam. Entah apa yang membuat dia pagi itu begitu tiba Surabaya dan beres mandi langsung pergi pergi mengunjungi saya. Setelah berbicara ke Utara Selatan, secara sambil lalu teman saya ini menceritakan pengalaman yang ia alami di kereta api semalam.
KEPEMIMPINAN YANG MENGHAMBA
Servant Leadership atau Kepemimpinan yang Menghamba merupakan salah satu buku kepemimpinan yang paling berpengaruh di dunia. Buku yang ditulis oleh Robert Greenleaf , mantan salah satu pemimpin dari perusahaan raksasa telekomunikasi AT&T ini telah menjadi acuan dari ratusan perusahaan dan organisasi di dunia, seperti misalnya Asian Development Bank, dan Southwest Airlines, dalam pengembangan kepemimpinan di lembaga tersebut. Bukan itu saja, sejumlah perguruan tinggi yang ternama di Amerika juga telah membuka jurusan Servant Leadership di dalam program pendidikan mereka.
TANGAN YANG MENGATUR ARAH SEJARAH
Suatu siang di tahun 1947, seorang gembala remaja Bedouin berjalan menyusur tebing dan celah bukit-bukit batu di daerah padang gurun Khirbat Qumran, sebelah Utara dari Laut Mati, sekitar dua puluh kilometer ke arah Timur dari kota Yerusalem. Yang bersangkutan sedang berusaha mencari kambing gembalaannya yang hilang. Di bukit batu yang terpencil dan sangat jarang dikunjungi orang itu ia melihat sebuah lobang dan memperkirakan bahwa kambingnya bersembunyi di dalamnya. Karena itu ia mengambil beberapa butir batu dan melemparkannya ke dalam goa dengan harapan untuk mendengar suara embikan dari kambingnya. Alih-alih justru ia mendengar suara tempayan yang pecah tertimpa batu yang ia lemparkan. Hal ini sangat menarik hatinya untuk memeriksa apa yang terdapat di dalam goa tersebut. Di dalamnya ia menemukan gulungan-gulungan naskah kuno yang terbungkus dengan kain lenan dan disimpan di dalam beberapa tempayan. Penemuan yang tak disengaja ini membuka pintu bagi penemuan ribuan fragmen dari hampir seribu naskah kuno di dalam sebelas goa di Qumran, yang kemudian dikenal sebagai gulungan-gulungan naskah Laut Mati, atau Dead Sea Scrolls.
Langganan:
Postingan (Atom)






