MERAIH CITA-CITA YANG BERMAKNA


Salah satu pemain baseball yang namanya tercatat dalam Baseball Hall of Fame ditanya apa yang dia harapkan sebelum dia meraih kesuksesan. Dia menjawab, “Saya berharap orang memberitahu saya bahwa ketika Anda sampai di puncak, di sana tidak ada apa-apa.” Banyak sasaran hidup ternyata kosong setelah diraih. Kebanyakan orang yang mengejar cita-cita, berpikir bahwa saat mencapainya mereka akan mendapatkan makna. Beberapa cita-cita ini termasuk: kesuksesan bisnis, kekayaan, relasi yang baik, hiburan, dan lain-lain. Namun kenyataannya, saat mereka berhasil mencapai cita-cita, meraih kekayaan, relasi dan kesenangan, ternyata mendapati diri mereka memiliki kekosongan yang mendalam.

    Matius 6:24 Yesus berkata: “Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” Yesus mempertentangkan diri-Nya dengan mamon (harta/kekayaan). Yesus menyatakan bahwa tidak mungkin bagi seseorang untuk mengabdi kepada Allah dan kepada kekayaannya secara bersamaan. Orang yang menghambakan dirinya kepada Allah harus terlebih dahulu melepaskan dirinya dari keterikatan mamon (kekayaan). Sebelum terlepas dari keterikatan  mamon (kekayaan), ia tak dapat menjadi hamba Allah.
    Mereka yang semata-mata mengejar material sering terjebak ke dalam berbagai keinginan hawa nafsu, sehingga terjatuh dosa. Kehidupan modern dengan segala kemajuan teknologi, gemerlapan hiburan dan produk-produknya, telah mendorong banyak orang ke dalam sikap hidup yang tak pernah puas. Inilah hidup yang materialistis. Ketika kita hidup untuk memuaskan ego diri kita sendiri, maka hidup kita kehilangan relasi dengan sesama dan Tuhan. 
Bagaimana agar kita dapat meraih tujuan hidup namun terbebas dari materialisme?

1. Paulus menasihati Timotius: tetapi engkau hai manusia Allah, jauhilah semuanya itu, kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan. 
Sebagai anak-anak Allah, orang-orang yang sudah ditebus dan menerima anugerah Allah, kita diminta untuk menjauhi sikap hidup yang hanya terfokus pada uang dan kekayaan, pada kepuasan diri sendiri, pada sikap hidup yang mementingkan diri sendiri, sikap hidup yang menjadi budak uang dan kekayaan. Hidup kita haruslah terfokus pada bagaimana berlaku adil, hidup sebagai ibadah kepada Allah, penuh dengan keadilan, kasih, kesabaran dan kelembutan. Hal-hal seperti itulah yang harus kita turuti bahkan harus kita patuhi dengan tidak bercacat dan tidak bercela, hingga pada saat Tuhan kita Yesus Kristus menyatakan diri-Nya.
2. Paulus meminta kita untuk setia kepada Tuhan, terus menjaga sikap hidup benar, dan merebut hidup kekal yang penuh kebahagiaan di dalam Tuhan. 
Inilah cita-cita yang sehat. Cita-cita yang sehat akan memberikan makna hidup yang berarti, makna hidup yang ditemukan ketika orang berjalan mengikuti Kristus sebagai murid-Nya, belajar dari Dia, menggunakan waktu belajar Firman-Nya, bersekutu dalam doa, dan taat kepada perintah-Nya untuk mencapai cita-cita hidupnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar