MEMBANGUN PARA PEMEGANG JANJI


Memasuki indoor stadium atau stadion tertutup yang dipenuhi oleh 20.000 laki-laki yang sedang memuji Tuhan, bulu kuduk saya pun berdiri. Belum pernah saya merasakan suasana seperti yang saya rasakan hari itu. Dua puluh ribu pria berkumpul dan bersama-sama memuji Tuhan, tak pernah saya membayangkan hal itu sebelumnya. Hari itu, bulan September 2000 saya menghadiri acara Promise Keepers yang diselenggarakan di stadion Pepsi Center di kota Denver, Colorado. Acara selama dua hari tersebut membawa dampak yang sangat besar di dalam diri saya. Di dalam hati tumbuh kerinduan untuk melihat bangkitnya gerakan pria seperti Promise Keepers ini di Indonesia.


Promise Keepers merupakan suatu gerakan pria yang didirikan oleh Bill McCartney, pelatih sepakbola University of Colorado pada tahun 1990 dengan tujuan untuk menolong para laki-laki agar mengenal Kristus dan hidup sesuai dengan kehendak Tuhan bagi para pria. Untuk mencapai tujuan tersebut lembaga ini mengajak para pria untuk memegang tujuh janji. Kesetiaan terhadap janji inilah yang akan menolong mereka untuk menjadi para laki-laki yang dapat diiandalkan. Itulah sebabnya lembaga ini diberinama Promise Keepers, yang artinya para pemegang janji.

Sejak ia didirikan gerakan ini semakin meluas dan memperoleh dukungan dari para hamba Tuhan seperti James Dobson, pendiri dari Focus on the Family, Jack Hayford, gembala dari Church on the Way di California, Chuck Swindoll, rektor dari Dallas Theological Seminary dan gembala dari Stonebriar Community Church, Texas, dan berbagai pemimpin Kristen Injili lainnya. Puncaknya pada tahun 1997 mereka menyelenggarakan pertemuan para pria yang terbesar dalam sejarah kekristenan di Amerika di kota Washington DC. Pertemuan yang mengambil tema Stand in the Gap dan diselenggarakan di depan Capitol Hill atau gedung parlemen Amerika Serikat dihadiri oleh tak kurang dari satu juta pria!

Dampak langsung dari gerakan Promise Keepers ini adalah bertumbuhnya pelayanan pria di berbagai gereja di seluruh Amerika Serikat dan berbagai negara di dunia, termasuk di Indonesia. Walaupun memakai nama yang berbeda-beda, tetapi pada dasarnya pelayanan pria ini mengadopsi tujuh janji yang dicetuskan oleh Promise Keepers, karena meyakini bahwa itulah sikap yang semustinya dari para pengikut Kristus. Sikap hati yang penuh integritas yang memungkinkan mereka hidup sebagai garam dan terang dunia.



Sikap hidup yang penuh integritas sebagai para pemegang janji inilah yang Yesus ajarkan di dalam Khotbah di Bukit sebagaimana yang dicatat di dalam Matius 5:33-37. Hal ini Ia paparkan sehubungan dengan sikap legalistis orang-orang Farisi terhadap rumusan suatu sumpah, sehingga justru dengan demikian mereka memperoleh celah untuk menghindarkan diri dari kewajiban memenuhi sumpah tersebut.

Matius 5:33-37

33 Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan. 34 Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah, 35 maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar; 36 janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambutpun. 37 Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.


I. Sikap orang Farisi terhadap sumpah

Di dalam khotbah-Nya ini Yesus merangkum beberapa ayat di dalam kitab Perjanjian Lama yang berkaitan dengan sumpah dan mengingkari sumpah, yaitu antara lain di dalam Keluaran 20:7, Imamat 19:12, Bilangan 30:2, Ulangan 23:21-24. Di dalam rangkuman ini Ia menegaskan keharusan bagi setiap orang yang bersumpah untuk memenuhi apa yang telah ia ucapkan.

Pada dasarnya apa yang disebut dengan sumpah itu sendiri adalah suatu pernyataan yang dibuat oleh seseorang dengan mengundang Tuhan sebagai saksi. Isi pernyataan itu sendiri dapat digolongkan menjadi dua. Yang pertama pernyataan kepada Tuhan, dan bila pernyataan itu berisi janji kepada Tuhan maka ia disebut sebagai nasar. Yang kedua yaitu pernyataan kepada manusia, baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain.

Menilik dari apa yang Yesus katakan tentang sumpah ini, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa bila sumpah ini, baik itu bersifat pernyataan kepada Tuhan maupun kepada manusia, diingkari maka ia akan dianggap sebagai sumpah palsu. Untuk itu Ia berkata: “Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan”

Tetapi tidak demikian halnya bagi orang Farisi. Bagi mereka sumpah yang palsu bukanlah pengingkaran terhadap isi sumpah, tetapi ketidak akuratan rumusan sumpah yang diucapkan. Dengan berpendapat seperti itu maka bagi orang Farisi sumpah seakan-akan merupakan suatu mantera yang bila salah pengucapanya maka ia tidak akan memiliki khasiat apapun juga. Dalam hal ini bila suatu sumpah salah di dalam pengucapan rumusannya maka ia tidak akan bersifat mengikat. Yesus mengungkapkan pandangan orang-orang Farisi tentang sumpah ini di dalam Matius 23:16-22.

Tentang hal itu orang-orang Farisi ini menggunakan alasan bahwa mereka berkewajiban untuk menjaga nama Tuhan agar tak diucapkan dengan sembarangan. Karena itu mereka tidak bersumpah dengan menyebut nama Tuhan. Sebaliknya sebagaimana yang disebutkan Yesus di dalam Matius 5:34-36, mereka bersumpah demi langit, bumi, kota Yerusalem maupun demi kepala mereka sendiri. Dengan berbuat demikian maka mereka memiliki alasan untuk menghindarkan diri dari konsekuensi tuntutan Tuhan bila ternyata mereka mengingkari sumpah tersebut. Sebab mereka beranggapan karena sumpah ini tidak dibuat demi nama Tuhan maka sesungguhnya bukanlah Tuhan yang menjadi saksinya.

Di masa sekarang hal ini dapat dipersamakan dengan tindakan seseorang yang berjanji kepada orang lain dengan berkata: “Saya akan upayakan ya.” Misalkan ia berjanji bahwa ia akan menghadiri undangan pesta temannya. Maka yang bersangkutan akan berkata: “Saya akan upayakan untuk datang ke pestamu ya.” Padahal saat ia mengucapkan janji tersebut sesungguhnya di dalam hati ia sudah memutuskan untuk tidak menghadiri pesta itu.

Dan bila ternyata kemudian ia memang tidak menghadirinya maka temannya tidak dapat mempersalahkan dirinya. Sebab kata “diupayakan” itu sendiri artinya sangat luas, tidak bersifat pasti dan sulit untuk diukur. Melangkah keluar pintu rumah dan tidak meneruskan perjalanan ke tempat pesta sudah termasuk mengupayakan untuk datang. Mengenakan baju pesta, kemudian mengurungkan niatan untuk pergi ke pesta itu juga sudah termasuk mengupayakan. Singkat kata, kalimat diplomatis ini nampak meyakinkan tetapi sebenarnya janji yang hampa. Demikian pula halnya dengan sumpah yang dibuat oleh orang-orang Farisi.


II. Pandangan Yesus terhadap sumpah

Di samping menegaskan bahwa setiap orang harus memenuhi sumpah yang ia buat di hadapan Tuhan, Yesus juga menyampaikan bahwa setiap sumpah entah dibuat demi nama Tuhan ataupun demi hal-hal yang lain adalah bersifat mengikat. Artinya sumpah yang dibuat demi langit, bumi, Yerusalem maupun demi kepala sendiri bersifat mengikat.

Karena itu di dalam Matius 5:34-36 Yesus berkata: “Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah, maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar; janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambutpun.”

Bila dilihat secara harafiah, maka sabda Yesus ini seakan-akan berarti bahwa orang sama sekali dilarang untuk bersumpah demi apapun juga. Tetapi bila hal ini ditinjau dari kecaman-Nya terhadap kelicinan orang Farisi dalam mencari celah untuk menghindarkan diri dari konsekuensi pengingkaran sumpah seperti yang ditulis di dalam Matius 23:16-22, maka sesungguhnya yang Ia lakukan disini adalah menutup celah tersebut. Ia menegaskan kepada mereka bahwa bagaimana pun juga bunyi umusan sumpah tersebut mereka tetap harus bertanggungjawab terhadap apa yang mereka telah ikrarkan.


III. Sikap pengikut Kristus terhadap sumpah

Berkenaan dengan pengajaran Yesus tentang sumpah ini, sebagian orang memahaminya secara harafiah yaitu bahwa Yesus melarang para pengikut-Nya untuk bersumpah. Namun apabila kita mengingat bahwa pada dasarnya sumpah adalah suatu permohonan agar Tuhan menjadi saksi bagi kebenaran dari apa yang kita ucapkan, maka kita dapat melihat adanya berbagai contoh di dalam Kitab Perjanjian Baru tentang sumpah ini. Di antaranya sumpah yang dibuat oleh Rasul Paulus sebagaimana yang antara lain dicatat di Roma 1:9; 2Korintus 1:18, 23; Galatia 1:20; 1Tesalonika 2:5, 10.

Sesungguhnya yang Yesus maksudkan dengan pengajaran-Nya ini adalah orang yang hidup jujur tidaklah perlu mengandalkan sumpah untuk meyakinkan orang lain akan kebenaran dari pernyataannya. Namun bila pemerintah atau orang yang memegang wewenang secara hukum mengharuskan kita untuk mengucapkan sumpah, kita tidak harus menolaknya. Itulah yang Yesus lakukan saat Mahkamah Agama yang dipimpin oleh Imam Besar meminta diri-Nya untuk menyatakan kebenaran dengan bersumpah, sebagaimana yang ditulis di Matius 26:63-64. Di sana dicatat bahwa Yesus tidak menolak permintaan sang Imam Besar ini.

Memang setiap orang yang menjadi pengikut Kristus harus menjunjung tinggi perkataan yang ia ucapkan seperti itu sendiri merupakan suatu sumpah. Yesus menegaskan hal tersebut di dalam Matius 5:37 dengan berkata: “Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.” Artinya setiap pernyataan yang dibuat oleh pengikut Kristus haruslah dapat diandalkan orang lain.

Saudara-saudari, semua pengikut Kristus haruslah sikap jujur dalam perkataan dan setia terhadap janjinya. Hanya dengan demikian barulah kita dapat mempengaruhi dunia sekitar. Hal ini sangat masuk di nalar, sebab kepercayaan orang lain terhadap diri kita sangatlah tergantung kepada kejujuran kita. Bila ternyata kita didapati sebagai orang yang jujur dan dapat diandalkan perkataannya, barulah orang mempercayai kita. Sedangkan sejauh mana kita dapat mempengaruhi seseorang sangatlah tergantung kepada sejauh mana yang bersangkutan mempercayai diri kita. Semakin kita dipercaya semakin besar pengaruh kita terhadap yang orang lain. Oleh karena itu hanya dengan bersikap jujur dan dapat diandalkan dalam perkataan barulah kita dapat menjadi garam dan terang yang mempengaruhi dunia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar