PENGIKUT KRISTUS & HUKUM TAURAT


Salah satu bukti bahwa Alkitab adalah benar-benar firman Tuhan yang tak bersalah adalah ketepatan dalam penggenapan nubuatan-nubuatan yang terdapat di dalamnya.  Nubuatan adalah firman Tuhan yang mengungkapkan apa yang akan terjadi di masa depan. Sebagian besar dari nubuatan di dalam Alkitab telah tergenapi secara akurat, sedangkan sisanya masih belum tergenapi karena hal tersebut berkaitan dengan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi di zaman akhir.

Sebagai contoh adalah penggenapan nubuatan tentang kedatangan Yesus Kristus di dalam kitab Perjanjian Lama. Di dalam ketiga puluh sembilan kitab dari Perjanjian Lama terdapat tak kurang dari 453 nubuatan tentang kedatangan Mesias. Dari sekian banyak nubuatan tersebut 196 nubuatan adalah tentang kedatangan-Nya yang pertama dan 257 tentang kedatangan-Nya yang kedua kali. Melalui kedatangan Yesus Kristus dua ribu tahun yang lampau seluruh nubuatan tentang kedatangan-Nya yang sebanyak 196 nubuatan tersebut telah tergenapi secara akurat. Sisanya, yaitu yang 257 itu akan digenapi pada saat kedatangan Yesus yang kedua kali nanti.

Dari sisi keakuratan nubuatan di dalam Alkitab ini maka dapat dikatakan bahwa kedatangan Yesus Kristus ke dunia adalah untuk menggenapi apa yang telah dituliskan di dalam kitab Perjanjian Lama. Itulah yang dikatakan Yesus di dalam khotbah-Nya yang biasa disebut sebagai Khotbah di Bukit, sebagaimana yang dicatat di dalam Matius 5:17-20.

Matius 5:17-20

17 "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.  18 Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.  19 Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.  20 Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga


I.            Yesus dan Kitab Suci

Bila kita memperhatikan dengan teliti susunan dari khotbah Yesus yang disebut sebagai Khotbah di Bukit ini, nampak pada bagian pertama yaitu di saat Ia menyampaikan Delapan Sabda Bahagia yang dicatat di dalam Matius 5:3-10 Yesus berbicara kepada pribadi yang ketiga, yaitu dengan setiap kali berkata: “Berbahagialah orang yang…” Kemudian di bagian selanjutnya ketika Ia berbicara tentang panggilan bagi para pengikut-Nya untuk mempengaruhi dunia yang memusuhi mereka sebagaimana yang dicatat di dalam Matius 5:11-16 Yesus berbicara kepada pribadi yang kedua, yaitu dengan setiap kali berkata secara langsung kepada para pendengar khotbah-Nya dan menyapa mereka dengan kata “kamu.”

Sesudah itu di dalam Matius 5:17-20 Ia berbicara dalam konteks pribadi pertama, yaitu dengan menyebut diri-Nya sendiri dengan kata “Aku” dan menjadikannya sebagai inti pengajaran-Nya. Dalam hal ini pengajaran tentang hubungan diri-Nya dengan kitab suci Perjanjian Lama.

Nampaknya tindakan-tindakan Yesus yang mengkritisi sikap legalisme para pemimpin agama Yahudi yaitu para ahli Taurat dan orang Farisi dengan berulang-ulang menyembuhkan orang pada hari Sabat serta cara Dia dalam mengajar yang sangat berbeda dengan para pemimpin agama Yahudi membuat orang menduga bahwa Ia bermaksud untuk meniadakan hukum Taurat. Itu sebabnya sebagian orang seperti yang dicatat di dalam Markus 1:27 berkata bahwa Ia membawa ajaran yang baru.

Untuk itu Yesus menjelaskan kepada mereka bahwa Ia datang bukan untuk meniadakan ataupun membatalkan kitab suci Perjanjian Lama, yaitu hukum Taurat maupun kitab para nabi. Tetapi justru Ia datang untuk menggenapi semua yang dituliskan di dalamnya.

Kata menggenapi yang Yesus gunakan di sini berarti bahwa sejak dari kedatangan-Nya maka isi kitab Taurat dan para nabi atau kitab suci Perjanjian Lama telah genap. Sehingga dengan demikian maka tidak ada lagi penambahan pada kitab Perjanjian Lama.


II.            Allah dan Kitab Suci

Lebih jauh Tuhan Yesus berkata bahwa: “Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.” Hal ini menunjukkan bahwa keakuratan isi Kitab Suci tidaklah boleh diremehkan apalagi ditiadakan. Sebab sebagai firman dari Allah sendiri maka keakuratan dan kepastian dari Kitab Suci sangatlah penting, sehingga ia dapat menjadi tolok ukur dari kebenaran.

Tentang keakuratan dan kepastian dari Kitab Suci ini Yesus menjelaskan bahwa satu iota atau titikpun tidak akan ditiadakan. Yang dimaksudkan dengan iota adalah abjad yang paling sederhana dalam abjad Ibrani, berbentuk tanda koma. Dalam abjad Latin nilai dari iota ini hampir dapat dipersamakan dengan tanda titik pada huruf i, sehingga menjadikan apakah itu huruf i kecil atau huruf I kapital.

Sedangkan titik yang dimaksukan oleh Yesus adalah keraia, yaitu salah satu tanda kecil pada abjad Ibrani yang membedakan abjad yang satu dengan yang lain. Sebagai contoh dalam abjad Ibrani huruf D atau dalet dengan huruf R atau resh sangat mirip, adanya keraia pada huruf dalet yang membuat ia berbeda dengan huruf resh. Di dalam abjad Latin hal ini hampir mirip dengan tanda garis melintang pada huruf T yang membedakannya dengan huruf I.

Berarti perkataan Yesus “satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat,” bila itu dikenakan pada abjad Latin hampir dapat dipersamakan dengan kalimat “satu titik pada huruf ‘i’ atau satu tanda garis pada huruf T pun tidak akan akan ditiadakan dari hukum Taurat.”

Keakuratan yang sedemikian tingginya dari isi Kitab Suci ini juga menjelaskan betapa Tuhan dengan sangat teliti memastikan bahwa setiap bagian dari firman-Nya benar-benar akan Ia genapi. Tidak ada sekecil apapun dari janji yang Ia firmankan dan ditulis di dalam Kitab Suci akan Ia abaikan. Ia bersikap setia kepada apa yang Ia sendiri telah firmankan. Ia menjamin bahwa setiap patah kata dari janji-Nya pasti akan ia laksanakan.


III.            Pengikut Kristus dan Kitab Suci

Kesetiaan Allah terhadap apa yang Ia firmankan ini pulalah yang menjadi dasar bagi para pengikut Kristus untuk menaati firman Tuhan dengan teliti dan setia. Karenanya Yesus berkata lebih lanjut sebagai berikut: “Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.” 

Tentu hal ini akan membuat kita bertanya: “Apakah sebagai pengikut Kristus di zaman sekarang maka kita masih harus mempersembahkan korban bakaran seperti yang diperintahkan di dalam hukum Taurat?” Atau, kalau demikian mengapa Rasul Paulus di dalam Galatia 5:6 menulis: “Sebab bagi orang-orang yang ada di dalam Kristus Yesus hal bersunat atau tidak bersunat tidak mempunyai sesuatu arti?”  Bahkan di dalam Efesus 2:15 Rasul Paulus menulis bahwa melalui kematian-Nya Yesus telah membatalkan hukum Taurat sebagai berikut: “Sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya.” Bagaimana kita dapat menjelaskan dua pernyataan yang nampak sebagai kontradiksi ini?

Saudara-saudari, berbicara tentang isi kitab Perjanjian Lama, pada dasarnya ia dapat digolongkan menjadi empat bagian. Yang pertama berisi pengajaran doktrinal. Kata Taurat yang sering diterjemahkan sebagai hukum itu sebenarnya berarti “ajaran yang diungkapkan.” Di dalamnya diajarkan kepada kita tentang siapakah Tuhan, penciptaan, manusia, keselamatan dan banyak doktrin penting lainnya. Namun pengungkapkan tentang semua hal yang diajarkan tersebut tidaklah lengkap. Hanya melalui pribadi, ajaran dan karya Yesus semua pengungkapan itu menjadi lengkap. Dengan demikian kita dapat mengenal siapakah Tuhan, karya dan pikiran-Nya secara genap di dalam Yesus Kristus.

Yang kedua, kitab Perjanjian lama berisi nubuatan-nubuatan yang memprediksikan masa depan dan membimbing orang untuk mengharapkan kedatangan Sang Mesias. Nubuatan-nubuatan ini misalkan menyangkut tentang  pengorbanan Sang Mesias yang dilambangkan melalui korban bakaran, korban penebus dosa dan sunat serta berbagai gambaran lainnya. Kedatangan Yesus menggenapkan nubuatan-nubuatan tersebut. Itu sebabnya mengawali pelayanan-Nya seperti yang dicatat di dalam Markus 1:14 Yesus berkata: “Waktunya telah genap.”

Oleh karena itu melalui kematian Yesus seperti yang dikatakan oleh Rasul Paulus di dalam Efesus 2:15 para pengikut Kristus tidak perlu lagi melakukan semua upacara tersebut. Sebab semua upacara tersebut telah digenapi oleh Yesus, yang menurut surat Ibrani 9 sebagai Sang Imam Besar yang mengorbankan diri-Nya sendiri. Dengan demikian bukan berarti kitab Taurat dibatalkan dalam pengertian ditiadakan, namun hukum-hukum tersebut telah digenapi di dalam Yesus, sehingga sebagai pengikut Kristus kita tak perlu lagi mengerjakannya.

Yang ketiga, kitab Perjanjian Lama berisi hukum-hukum kemasyarakatan, seperti misalkan tentang besarnya denda yang harus dibayar oleh seorang yang merugikan orang lain, tata cara pembagian warisan atau hukuman mati dengan dilontari batu atau hukum rajam. Kedatangan Yesus telah memulai era yang baru, dimana sebagai para pengikut-Nya kita menjadi warga dari Kerajaan Allah yang bersifat rohani, karena itu hukum-hukum kemasyarakatan tersebut tak lagi berlaku secara harafiah, namun nilai-nilai kebenarannya tetap mewarnai hukum sipil yang berlaku di tengah masyarakat sekarang.

Yang keempat, kitab Perjanjian Lama berisi ajaran-ajaran etis yang menyangkut masalah moralitas, seperti perintah jangan membunuh, atau jangan mencuri. Yesus menggenapi ajaran-ajaran ini dengan Ia sendiri menaatinya untuk membuktikan bahwa Ia adalah pribadi yang tidak berdosa. Hukum ini masih berlaku sampai kini bagi kita para pengikut-Nya.  Bahkan Yesus berkata dalam kesetiaan terhadap ajaran yang menyangkut moralitas ini para pengikut-Nya tak boleh lebih rendah dibandingkan para ahli taurat dan orang Farisi. Dengan menaati firman Tuhan itu bukan saja hidup kita akan mengalami berkat Tuhan, yaitu mengalami kebahagiaan yang sejati, tetapi hanya dengan demikian baru kita dapat menjadi garam dan terang di tengah dunia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar